Kabut Asap Kepung Palembang, CFN dan CFD Dihentikan Sementara

Berita3 Views

Kabut Asap Kepung Palembang, CFN dan CFD Dihentikan Sementara Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali mengubah aktivitas masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan. Pemerintah Kota Palembang memutuskan menghentikan sementara Car Free Night dan Car Free Day setelah kualitas udara dalam beberapa hari terakhir berada pada tingkat yang dinilai tidak aman untuk kegiatan masyarakat dalam jumlah besar di ruang terbuka.

Kebijakan berlaku mulai Car Free Night di kawasan Jalan Kolonel Atmo pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026. Car Free Day yang biasanya berlangsung pada Minggu pagi, 30 Agustus 2026, di kawasan sekitar Jembatan Ampera juga ditiadakan. Belum ada tanggal pasti mengenai pembukaan kembali dua kegiatan tersebut karena pemerintah akan menunggu perkembangan kualitas udara.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan kegiatan CFN dan CFD sebaiknya tidak dilaksanakan lebih dahulu apabila tren kualitas udara belum stabil. Masyarakat juga diminta mengurangi kegiatan di luar rumah serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di ruang terbuka.

Keputusan tersebut datang setelah kabut asap terlihat semakin jelas menyelimuti berbagai bagian Palembang dalam beberapa hari terakhir. Jembatan Ampera yang biasanya mudah terlihat dari kejauhan sempat tertutup asap tebal. Pada 23 Agustus, jarak pandang pada pagi hari bahkan dilaporkan kurang dari 50 meter, sedangkan kualitas udara pada malam dan pagi sempat berada pada kategori berbahaya.

CFN Jalan Kolonel Atmo Langsung Ditiadakan

Car Free Night menjadi kegiatan pertama yang terkena penghentian sementara pada akhir pekan ini. Agenda yang biasa digelar setiap Sabtu malam di Jalan Kolonel Atmo tersebut tidak dilaksanakan pada 29 Agustus.

CFN selama ini menjadi salah satu ruang berkumpul masyarakat Palembang pada malam akhir pekan. Jalan yang biasanya dilalui kendaraan dialihkan menjadi ruang bagi pejalan kaki, kegiatan keluarga, hiburan, dan usaha kuliner.

Namun, karakter kegiatan yang seluruhnya berada di luar ruangan membuat pemerintah menilai penyelenggaraan sulit dipertahankan ketika asap masih menyelimuti kota.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Palembang Isnaini Madani menjelaskan pemerintah tidak dapat memastikan seluruh pengunjung menggunakan masker selama berada di lokasi. Aktivitas fisik dan kerumunan terbuka menjadi salah satu pertimbangan penghentian tersebut.

Pemkot sebelumnya telah meminta masyarakat memakai masker. Namun, mengandalkan imbauan tersebut saat ribuan orang berkumpul dinilai tidak cukup ketika kondisi udara masih berubah dengan cepat.

CFD Jembatan Ampera Ikut Dihentikan Minggu Pagi

Kebijakan serupa diterapkan pada Car Free Day yang dijadwalkan berlangsung Minggu, 30 Agustus 2026.

CFD Palembang biasanya menarik masyarakat untuk berjalan kaki, berlari, bersepeda, mengikuti senam, dan menikmati kawasan sekitar Jembatan Ampera tanpa arus kendaraan bermotor seperti pada hari biasa.

Aktivitas olahraga justru menjadi perhatian saat kualitas udara menurun.

Ketika seseorang berolahraga, frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat. Dalam keadaan udara dipenuhi partikel halus dari asap, jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan juga bertambah.

Itulah sebabnya pemerintah memilih meniadakan kegiatan daripada tetap membukanya dengan kewajiban penggunaan masker yang sulit dikontrol.

Keputusan ini sekaligus berbeda dari CFD pada 23 Agustus. Saat itu ribuan masyarakat masih mengikuti kegiatan di sekitar Jembatan Ampera meski kabut asap sudah terlihat cukup pekat. Foto ANTARA memperlihatkan area jembatan tertutup asap selama pelaksanaan hari bebas kendaraan tersebut.

ISPU Palembang Sempat Tembus 253

Kekhawatiran pemerintah bukan hanya berdasarkan kondisi visual kota yang terlihat kelabu.

Data kualitas udara menunjukkan peningkatan pencemaran selama paruh kedua Agustus.

Pada 25 Agustus 2026, Indeks Standar Pencemar Udara Palembang dilaporkan mencapai angka 253. Nilai tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat. Sehari sebelumnya, nilai ISPU juga tercatat 216.

Pemkot Palembang sebelumnya telah memberi sinyal bahwa CFN dan CFD akan dihentikan apabila ISPU tetap berada di atas 200 menjelang akhir pekan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang M Irman ketika itu mengatakan pemerintah terus memperbarui data kualitas udara. Apabila nilai masih berada pada kategori sangat tidak sehat ketika jadwal kegiatan tiba, penghentian sementara menjadi pilihan yang disiapkan.

Kondisi belum membaik secara konsisten hingga Sabtu. Pemerintah akhirnya menjalankan kebijakan tersebut.

PM2.5 Menjadi Polutan yang Banyak Dipantau

Salah satu parameter yang mendapat perhatian besar selama kabut asap adalah PM2.5.

PM2.5 merupakan partikel sangat kecil di udara dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya membuat partikel dapat masuk jauh ke saluran pernapasan ketika terhirup.

BMKG melalui Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan telah mencatat periode kualitas udara sangat tidak sehat di Palembang pada Agustus. Pada 14 Agustus, pemantauan PM2.5 di Musi 2 menunjukkan kondisi kategori merah pada dini hari sampai pagi.

Pada 23 Agustus, konsentrasi PM2.5 di kawasan Musi II dilaporkan mencapai 205,5 mikrogram per meter kubik sekitar pukul 04.00 WIB. Kondisi kemudian turun secara bertahap, tetapi kualitas udara masih tidak sehat pada beberapa jam berikutnya.

Pola tersebut menunjukkan kualitas udara dapat berubah dalam satu hari. Kondisi pagi, siang, sore, dan malam belum tentu sama karena dipengaruhi angin, suhu, kelembapan, serta sebaran asap.

“Menurut penulis, penghentian CFD dan CFN menjadi keputusan yang masuk akal karena kegiatan rekreasi tidak seharusnya memaksa masyarakat mengambil risiko ketika kualitas udara masih sulit diprediksi.”

Asap Tidak Selalu Berasal dari Kebakaran di Dalam Kota

Palembang tidak harus mempunyai kebakaran besar di pusat kota untuk mengalami kabut asap pekat.

Asap dapat berpindah mengikuti arah angin dari kabupaten di sekitarnya yang mempunyai kebakaran hutan dan lahan dalam jumlah lebih besar.

BMKG Sumatera Selatan pada 26 Agustus menjelaskan peningkatan karhutla terutama menjadi perhatian di kawasan Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Banyuasin. Lahan gambut yang semakin kering membuat kebakaran lebih sulit ditangani karena api dapat bergerak di bawah permukaan tanah.

Asap dari area tersebut kemudian dapat bergerak menuju Palembang bergantung pada pola angin.

Hal inilah yang membuat kondisi kota dapat memburuk pada malam sampai pagi meskipun warga tidak melihat kebakaran besar di sekitar tempat tinggal mereka.

Pemantauan menggunakan citra satelit juga membantu melihat pergerakan asap dalam wilayah yang jauh lebih luas daripada batas administratif kota.

Sumatera Selatan Masih Catat Lebih dari Seribu Hotspot

Kementerian Kehutanan pada 29 Agustus menyatakan jumlah hotspot di Sumatera Selatan mulai turun dibandingkan sehari sebelumnya, tetapi angkanya masih tinggi.

Data SiPongi mencatat Sumatera Selatan mempunyai 1.036 hotspot pada 28 Agustus. Jumlah itu turun dari 1.281 hotspot pada 27 Agustus.

Penurunan tersebut belum membuat kewaspadaan dihentikan.

Kementerian Kehutanan tetap menempatkan Sumatera Selatan sebagai satu dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla bersama Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Riau.

Pemerintah juga mengingatkan hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan satu kebakaran.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dibaca melalui satelit. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot, sementara setiap temuan tetap membutuhkan pemeriksaan di lapangan.

Meski demikian, jumlah yang tinggi dalam periode kemarau menjadi tanda bahwa tim lapangan harus mempertahankan patroli dan pemeriksaan.

Ogan Komering Ilir Menjadi Wilayah yang Banyak Dipantau

Dalam catatan BPBD Sumatera Selatan pada 28 Agustus, Ogan Komering Ilir menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbesar.

Dari lebih dari seribu hotspot yang dipantau pada hari tersebut, ratusan berada di OKI. Banyuasin dan Musi Banyuasin juga mencatat jumlah tinggi.

Kondisi OKI penting bagi Palembang karena wilayah tersebut mempunyai kawasan gambut luas.

Ketika gambut mengering, api dapat membakar material organik yang berada di bawah permukaan. Asap yang dihasilkan dapat berlangsung lama meski kobaran tidak selalu terlihat besar dari kejauhan.

Pemadaman biasanya membutuhkan pembasahan berulang sampai bagian gambut yang menyimpan bara benar benar dingin.

Karena itu, Manggala Agni dan tim gabungan tidak hanya melakukan pemadaman di permukaan. Patroli, penyekatan, pemeriksaan lapangan, serta pendinginan harus terus dilakukan.

Operasi Modifikasi Cuaca Belum Menghasilkan Hujan Besar

Pemerintah juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca untuk membantu meningkatkan peluang hujan di Sumatera Selatan.

Namun, operasi selama sekitar satu pekan sampai 28 Agustus belum menghasilkan hujan dengan intensitas yang dianggap signifikan.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menjelaskan Sumatera Selatan sedang berada pada puncak musim kemarau. Kondisi tersebut membatasi pertumbuhan awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian.

Operasi modifikasi cuaca tidak dapat menciptakan awan dari udara yang benar benar kering.

Teknik tersebut bekerja dengan mengoptimalkan awan yang sudah terbentuk secara alami. Bahan semai kemudian digunakan ketika karakter awan, kelembapan, dan keadaan atmosfer memenuhi persyaratan operasi.

Awan yang mempunyai potensi hujan sempat ditemukan di Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, PALI, dan Muara Enim. Namun, hujan pada area sasaran maupun sekitarnya belum cukup besar untuk mengubah keadaan secara luas.

Kemarau Masih Menjadi Tantangan hingga September

BMKG Sumatera Selatan sebelumnya mengingatkan periode Agustus sampai September merupakan puncak musim kemarau di wilayah tersebut.

Prediksi untuk dasarian ketiga Agustus menunjukkan sebagian besar Sumatera Selatan mempunyai peluang sangat tinggi mengalami curah hujan rendah. Wilayah tengah sampai timur bahkan diprakirakan menerima hujan kurang dari 20 milimeter dalam periode tersebut pada banyak lokasi.

Kondisi kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar.

Pada saat yang sama, air di kanal, sungai kecil, dan kawasan gambut dapat terus berkurang sehingga operasi pemadaman membutuhkan usaha lebih besar.

BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terutama di wilayah rawan karhutla dan mengikuti informasi cuaca terbaru.

Larangan membuka lahan dengan pembakaran juga terus disampaikan oleh pemerintah pusat serta pemerintah daerah.

Jarak Pandang Sempat Kurang dari 50 Meter

Salah satu gambaran paling jelas dari beratnya kabut asap terlihat pada Minggu, 23 Agustus.

ANTARA mencatat jarak pandang di Palembang pada pagi hari berada di bawah 50 meter. Jembatan Ampera dan bagian lain kota terlihat samar tertutup asap.

Jarak pandang sangat rendah bukan hanya persoalan pemandangan kota.

Pengendara harus lebih berhati hati karena kendaraan, marka, dan objek di jalan lebih sulit terlihat dari jarak normal.

Aktivitas di Sungai Musi juga dapat terpengaruh ketika pandangan terbatas.

Pada 29 Agustus pagi, keadaan jarak pandang tercatat membaik. Kementerian Kehutanan mengutip pengamatan BMKG yang menunjukkan jarak pandang Palembang sekitar enam kilometer pada pukul 07.00 WIB dengan kondisi cerah berawan.

Perbaikan satu waktu tersebut belum cukup untuk membuat Pemkot kembali membuka CFN dan CFD karena kualitas udara masih menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu.

Sekolah Sudah Lebih Dulu Membatasi Aktivitas Luar Kelas

Pembatasan CFN dan CFD bukan langkah pertama yang diambil Palembang selama periode kabut asap ini.

Dinas Pendidikan Kota Palembang sebelumnya mengeluarkan edaran yang meminta sekolah mewajibkan siswa menggunakan masker selama pembelajaran. Kegiatan di luar kelas juga untuk sementara ditiadakan.

Anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap paparan udara tercemar.

Sekolah diminta menyesuaikan aktivitas agar siswa tidak terlalu lama berada di ruang terbuka ketika kualitas udara buruk.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan pembatasan mulai diarahkan pada kegiatan yang tidak mendesak dan membutuhkan aktivitas fisik di luar ruangan.

CFD dan CFN akhirnya masuk dalam kelompok kegiatan yang dianggap dapat ditunda sampai udara membaik.

Penghentian CFN Ikut Menyentuh Pelaku UMKM

Di balik fungsi rekreasi, CFN juga menjadi ruang ekonomi bagi pedagang kecil.

Pelaku UMKM menjual makanan, minuman, aksesori, dan berbagai produk kepada masyarakat yang datang ke kawasan Jalan Kolonel Atmo.

Ketika kegiatan dihentikan, pedagang kehilangan salah satu periode penjualan akhir pekan.

Pemkot Palembang menyadari keadaan tersebut. Isnaini Madani secara khusus meminta pengertian pelaku UMKM dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan CFN karena penghentian hanya dilakukan selama kondisi udara belum memungkinkan.

Pemerintah belum menyatakan kegiatan dihentikan dalam jangka panjang.

Evaluasi direncanakan dilakukan kembali dengan melihat perkembangan kabut asap dan data kualitas udara selama beberapa hari berikutnya.

Kegiatan dapat dibuka kembali setelah pemerintah menilai kondisi lebih aman bagi masyarakat.

Masker Tetap Disarankan bagi Warga yang Harus Keluar Rumah

Penghentian dua agenda akhir pekan tidak berarti aktivitas Palembang seluruhnya berhenti.

Transportasi, perdagangan, pekerjaan, dan kebutuhan masyarakat tetap berjalan.

Karena itu, pemerintah meminta warga yang tetap harus keluar rumah menggunakan masker serta mengurangi waktu berada di area terbuka ketika asap terasa lebih pekat.

Kelompok yang perlu lebih berhati hati mencakup anak, lansia, serta masyarakat yang mempunyai riwayat gangguan saluran pernapasan.

Warga juga diminta memantau informasi resmi mengenai kualitas udara karena keadaan dapat berubah dalam hitungan jam.

Pada pagi hari udara mungkin terlihat lebih baik, kemudian konsentrasi partikel dapat meningkat kembali ketika angin membawa asap dari kawasan kebakaran.

“Kebiasaan memeriksa kualitas udara kini sama pentingnya dengan melihat prakiraan hujan. Langit yang terlihat sedikit lebih cerah belum selalu berarti konsentrasi partikel sudah berada pada tingkat yang aman.”

Pemadaman Gambut Harus Dilakukan Berulang

Kebakaran gambut menjadi salah satu alasan mengapa kabut asap dapat bertahan cukup lama.

Tidak seperti rerumputan kering yang terbakar di permukaan, gambut terdiri atas material organik yang menumpuk selama waktu sangat panjang.

Ketika kering, lapisan tersebut dapat terbakar sampai ke bagian bawah tanah.

Kementerian Kehutanan menjelaskan pemadaman dan pendinginan pada gambut dilakukan berulang untuk memastikan bara di bawah permukaan tidak menyala kembali.

Operasi melibatkan Manggala Agni, pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, serta masyarakat.

Dukungan udara berupa water bombing juga tetap disiapkan pada area yang membutuhkan penanganan dari udara.

Namun, petugas darat tetap dibutuhkan untuk memeriksa apakah bagian bawah lahan masih menyimpan panas.

Pembukaan CFD dan CFN Menunggu Udara Benar Benar Membaik

Pemkot Palembang belum menetapkan tanggal pembukaan kembali Car Free Night maupun Car Free Day.

Pemerintah akan melihat kualitas udara pada pekan berikutnya sebelum mengambil keputusan baru.

Isnaini Madani menyatakan CFN dan CFD dapat kembali dibuka apabila kondisi kabut asap membaik. Untuk sementara, perlindungan kesehatan masyarakat menjadi pertimbangan utama.

Evaluasi tidak hanya bergantung pada apakah asap terlihat tebal dari kejauhan.

Data ISPU, konsentrasi PM2.5, kondisi karhutla di kabupaten sekitar, arah angin, serta perkembangan hujan akan ikut menentukan.

Kementerian Kehutanan pada 29 Agustus memang mencatat jumlah hotspot Sumatera Selatan mulai turun, tetapi provinsi tersebut masih berada dalam daftar wilayah prioritas pengendalian karhutla.

Bagi warga yang biasanya menghabiskan malam Sabtu di Jalan Kolonel Atmo atau berolahraga di sekitar Jembatan Ampera pada Minggu pagi, akhir pekan ini harus dijalani tanpa dua kegiatan tersebut. Pemkot memilih menunggu kualitas udara stabil sebelum kembali mengundang masyarakat berkumpul dan berolahraga di ruang terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *