Kuku Mudah Patah dan Mengelupas? Kenali Penyebab Kuku Rapuh yang Sering Terabaikan

Kesehatan1 Views

Kuku yang sehat umumnya terasa cukup kuat, permukaannya relatif rata, serta mempunyai warna yang seragam. Namun, sebagian orang mendapati kuku mudah patah, retak, terbelah, atau mengelupas meskipun tidak sedang melakukan pekerjaan berat. Keadaan inilah yang sering disebut sebagai kuku rapuh.

Kuku rapuh bukan hanya persoalan penampilan. Perubahannya dapat muncul akibat kebiasaan sehari hari, paparan air dan bahan kimia, penggunaan produk kecantikan, proses penuaan, infeksi jamur, hingga gangguan kesehatan tertentu. Meski demikian, kuku rapuh tidak selalu menandakan penyakit serius.

Kuku tersusun dari lapisan protein keras yang disebut keratin. Lapisan tersebut terus tumbuh dari matriks kuku yang berada di bagian pangkal. Ketika matriks, permukaan kuku, atau jaringan di sekitarnya mengalami gangguan, pertumbuhan kuku dapat berubah. Kuku pun menjadi lebih tipis, kering, lunak, atau mudah hancur.

Terlalu Sering Terkena Air Membuat Lapisan Kuku Melemah

Kebiasaan mencuci tangan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, atau merendam tangan dalam air terlalu lama dapat menjadi penyebab kuku rapuh. Masalah ini kerap dialami oleh orang yang pekerjaannya menuntut kontak berulang dengan air, seperti petugas kebersihan, pekerja salon, tenaga kesehatan, dan pengolah makanan.

Kuku dapat menyerap air dan mengembang ketika basah. Setelah mengering, kuku kembali menyusut. Perubahan yang terjadi berulang kali membuat ikatan di antara lapisan keratin melemah. Ujung kuku kemudian lebih mudah terbelah atau mengelupas.

Air panas juga dapat mengurangi minyak alami di sekitar kuku dan kulit. Apabila tangan tidak segera dikeringkan dan diberi pelembap, kuku akan terasa semakin kering. Paparan kelembapan dalam waktu panjang bahkan dapat merusak kulit pelindung di sekitar pangkal kuku sehingga risiko iritasi serta infeksi ikut meningkat.

Paparan air dalam jangka panjang diketahui dapat menyebabkan kuku mengelupas dan menjadi rapuh. Oleh karena itu, penggunaan sarung tangan saat mencuci atau membersihkan rumah dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan air.

Sabun dan Cairan Pembersih Mengikis Perlindungan Alami Kuku

Bukan hanya air yang dapat melemahkan kuku. Sabun kuat, deterjen, pemutih, cairan pencuci piring, disinfektan, dan berbagai produk pembersih juga dapat mengikis minyak alami pada permukaan kuku.

Ketika lapisan pelindung berkurang, kuku kehilangan kelembapan dan menjadi lebih kaku. Kuku yang terlalu kering tidak mudah mengikuti tekanan ketika jari digunakan untuk mengambil, membuka, atau menekan benda. Akibatnya, bagian tepi kuku lebih gampang retak.

Keluhan biasanya tidak hanya terlihat pada kuku. Kulit tangan dapat terasa kasar, perih, gatal, atau pecah. Area kutikula juga bisa tampak kering dan terangkat. Jika keadaan tersebut dibiarkan, celah kecil di sekitar kuku dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri atau jamur.

Sarung tangan tahan air dapat digunakan ketika berhadapan dengan cairan pembersih. Namun, sarung tangan sebaiknya tidak dipakai terlalu lama ketika bagian dalamnya sudah basah oleh keringat. Kondisi lembap yang berkepanjangan juga dapat mengganggu kesehatan kulit dan kuku.

Kuku yang terus menerus terkena air dan bahan pembersih sebenarnya sedang menghadapi tekanan berulang. Perawatan dari luar tidak akan banyak membantu apabila sumber paparannya tidak dikurangi.

Kebiasaan Menggigit Kuku Menimbulkan Kerusakan Berulang

Menggigit kuku sering dilakukan tanpa sadar ketika seseorang sedang tegang, bosan, atau berkonsentrasi. Kebiasaan ini dapat merusak ujung kuku dan jaringan di sekitarnya. Tekanan dari gigi membuat lapisan kuku terkelupas secara tidak teratur sehingga bagian yang tersisa menjadi lebih mudah patah.

Sebagian orang juga suka mencabut serpihan kuku, mengorek bagian bawah kuku, atau menarik kulit di sekitar kuku. Tindakan tersebut dapat melukai matriks dan dasar kuku. Apabila terjadi berulang kali, bentuk pertumbuhan kuku dapat berubah.

Luka kecil di sekitar kuku juga meningkatkan risiko peradangan. Kulit dapat membengkak, kemerahan, terasa nyeri, atau mengeluarkan cairan. Kuman dari tangan dan mulut dapat berpindah ke jaringan yang terluka.

Selain menghentikan kebiasaan menggigit, kuku sebaiknya dipotong cukup pendek dan dirapikan menggunakan kikir. Tepi yang halus mengurangi keinginan untuk menggigit atau menarik bagian kuku yang terasa kasar. Cedera dan kebiasaan menggigit kuku memang termasuk penyebab umum berbagai masalah kuku.

Manikur Berulang Dapat Menipiskan Permukaan Kuku

Manikur dapat membuat kuku terlihat lebih rapi, tetapi proses yang terlalu sering atau dilakukan dengan cara agresif dapat menyebabkan kuku rapuh. Pengikisan permukaan kuku, pemotongan kutikula berlebihan, penggunaan perekat, serta proses pelepasan lapisan kuku buatan dapat merusak keratin.

Kuku gel dan kuku akrilik perlu mendapat perhatian khusus. Proses pemasangan maupun pelepasannya dapat membuat permukaan kuku menipis. Kuku yang sudah tipis akan terasa lunak, mudah ditekuk, mengelupas, atau patah ketika terkena benturan ringan.

Mengelupas cat kuku gel dengan tangan merupakan kebiasaan yang sangat merusak. Lapisan cat dapat menarik sebagian lapisan kuku asli saat dilepaskan. Akibatnya, permukaan kuku terlihat kusam, kasar, dan tidak rata.

American Academy of Dermatology menyebut manikur gel dapat menyebabkan kuku menjadi rapuh, mengelupas, dan retak. Penggunaan kuku buatan juga dapat meningkatkan risiko kuku terpisah dari jaringan di bawahnya, terutama pada orang yang sudah memiliki masalah kuku.

Penghapus Cat Kuku Membuat Kuku Semakin Kering

Penghapus cat kuku tertentu mengandung bahan yang efektif melarutkan pewarna dan lapisan cat. Namun, pemakaian terlalu sering dapat menghilangkan minyak alami yang membantu mempertahankan kelenturan kuku.

Kuku yang sangat kering biasanya tampak putih kusam pada bagian ujung, terasa kasar, dan mudah terbelah menjadi beberapa lapisan. Kondisi ini akan semakin berat apabila penghapus cat kuku digunakan bersamaan dengan proses pengikisan atau pengelupasan cat secara paksa.

Memberi jeda di antara penggunaan cat kuku dapat membantu lapisan kuku pulih. Pelembap juga dapat dioleskan pada kuku dan kutikula setelah tangan dicuci atau setelah cat kuku dibersihkan.

Penggunaan penghapus cat kuku yang mengandung aseton secara teratur dapat mengikis dan melemahkan kuku dari waktu ke waktu. Paparan suhu yang sangat panas atau dingin serta bahan kimia pembersih juga dapat memperberat kerapuhan.

Usia Membuat Pertumbuhan Kuku Berjalan Lebih Lambat

Seiring pertambahan usia, kuku dapat tumbuh lebih lambat dan menjadi lebih kusam. Lapisan kuku juga dapat kehilangan kelenturannya sehingga lebih mudah patah atau pecah pada bagian ujung.

Perubahan tersebut sering terlihat sebagai garis memanjang dari pangkal menuju ujung kuku. Garis vertikal yang ringan umumnya dapat muncul sebagai bagian dari proses penuaan. Kuku kaki mungkin justru menjadi lebih tebal, sedangkan kuku tangan cenderung lebih tipis dan rapuh.

Kondisi kuku pada usia lanjut juga dipengaruhi oleh berkurangnya kelembapan kulit, sirkulasi darah, penggunaan obat, serta penyakit yang menyertai. Karena pertumbuhan kuku melambat, kerusakan membutuhkan waktu lebih panjang untuk terdorong keluar dan tergantikan oleh kuku baru.

MedlinePlus menjelaskan bahwa kuku dapat tumbuh lebih lambat, menjadi kusam, dan lebih rapuh seiring bertambahnya usia. Perubahan ini dapat terjadi secara normal, tetapi perubahan bentuk atau warna yang mencolok tetap perlu diperhatikan.

Kekurangan Zat Besi Dapat Terlihat dari Kondisi Kuku

Zat besi diperlukan tubuh untuk menghasilkan hemoglobin yang membawa oksigen melalui darah. Ketika tubuh kekurangan zat besi, jaringan yang tumbuh cepat, termasuk rambut dan kuku, dapat ikut terpengaruh.

Kuku rapuh akibat kekurangan zat besi biasanya tidak berdiri sendiri. Keluhan dapat disertai tubuh mudah lelah, kulit pucat, pusing, sesak saat beraktivitas, jantung berdebar, rambut rontok, atau keinginan mengunyah es dan benda yang bukan makanan.

Pada keadaan tertentu, kuku dapat menjadi tipis dan melengkung ke dalam seperti sendok. Perubahan ini dikenal sebagai koilonychia. Bentuk tersebut tidak selalu disebabkan kekurangan zat besi, tetapi termasuk tanda yang perlu diperiksa.

Pemeriksaan darah diperlukan untuk memastikan anemia kekurangan zat besi. Mengonsumsi suplemen zat besi hanya berdasarkan kondisi kuku tidak dianjurkan karena dosis yang tidak sesuai dapat menimbulkan efek samping dan menutupi penyebab sebenarnya. Kuku rapuh dan kuku berbentuk sendok memang dapat berkaitan dengan anemia kekurangan zat besi.

Pola Makan Terlalu Ketat Mengganggu Pertumbuhan Kuku

Kuku memerlukan asupan protein, energi, vitamin, dan mineral yang cukup agar dapat tumbuh normal. Diet yang sangat ketat, pola makan tidak seimbang, gangguan penyerapan, serta penurunan berat badan yang drastis dapat membuat pertumbuhan kuku melambat.

Kurangnya protein dapat mengganggu pembentukan keratin. Kekurangan zat gizi tertentu juga dapat muncul pada orang yang mempunyai gangguan pencernaan, kehilangan nafsu makan, atau menjalani pembatasan makanan tanpa pengawasan.

Tanda kekurangan gizi biasanya tidak hanya berupa kuku rapuh. Seseorang dapat mengalami berat badan menurun, kelelahan, sering sakit, luka sulit sembuh, kulit kering, rambut rapuh, atau pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.

Malnutrisi dapat menyebabkan kulit kering serta rambut dan kuku menjadi rapuh. Penilaian penyebabnya memerlukan pemeriksaan pola makan, perubahan berat badan, kondisi kesehatan, dan hasil tes yang sesuai.

Suplemen Biotin Bukan Jawaban untuk Semua Orang

Biotin sering dipromosikan sebagai suplemen untuk rambut dan kuku. Sebagian orang kemudian mengonsumsinya begitu melihat kuku mulai rapuh. Padahal, bukti yang mendukung penggunaan biotin untuk semua kasus kuku rapuh masih terbatas.

Beberapa penelitian kecil memang menemukan kuku menjadi lebih keras setelah konsumsi biotin dosis tinggi. Namun, penelitian tersebut memiliki keterbatasan, termasuk jumlah peserta yang sedikit dan tidak adanya kelompok pembanding pada beberapa penelitian.

Suplemen biotin dosis tinggi juga dapat mengganggu hasil pemeriksaan laboratorium tertentu. Hasil tes hormon, jantung, dan beberapa pemeriksaan lain dapat tampak tidak akurat apabila petugas kesehatan tidak mengetahui bahwa pasien sedang mengonsumsi biotin.

National Institutes of Health menyatakan bukti ilmiah mengenai manfaat biotin bagi kuku rapuh masih sedikit. Penelitian yang tersedia belum cukup kuat untuk menjadikan biotin sebagai solusi rutin bagi setiap orang dengan masalah kuku.

Gangguan Tiroid Bisa Membuat Kuku Kering dan Mudah Patah

Kelenjar tiroid membantu mengatur berbagai proses tubuh, termasuk pertumbuhan jaringan. Ketika produksi hormon tiroid terlalu rendah, kuku dapat tumbuh lebih lambat, terasa kering, dan mudah patah.

Kuku rapuh akibat hipotiroidisme biasanya muncul bersama keluhan lain. Seseorang dapat merasa mudah lelah, sering kedinginan, mengalami kenaikan berat badan, sembelit, kulit kering, rambut menipis, menstruasi berubah, atau wajah terlihat sembap.

Perubahan kuku saja tidak cukup untuk mendiagnosis gangguan tiroid. Pemeriksaan dokter dan tes darah diperlukan untuk menilai kadar hormon tiroid.

MedlinePlus mencantumkan rambut dan kuku yang tipis serta rapuh sebagai salah satu gejala hipotiroidisme. Penyakit tiroid juga dapat menyebabkan kuku kering, menebal, bergaris, tumbuh lambat, mengelupas, atau mudah hancur.

Infeksi Jamur Membuat Kuku Hancur Perlahan

Infeksi jamur lebih sering menyerang kuku kaki, tetapi juga dapat terjadi pada kuku tangan. Kuku yang terinfeksi bisa menjadi rapuh, menebal, berubah warna, terangkat dari dasarnya, atau hancur pada bagian ujung.

Perubahan warna dapat berupa putih, kuning, cokelat, atau keabu abuan. Serpihan juga dapat menumpuk di bawah kuku. Pada tahap awal, infeksi mungkin tidak terasa sakit, tetapi kondisi yang berat dapat menimbulkan nyeri ketika memakai sepatu atau berjalan.

Risiko infeksi jamur meningkat pada orang yang sering berada di tempat lembap, menggunakan sepatu tertutup dalam waktu lama, mempunyai cedera kecil pada kuku, atau memiliki masalah aliran darah dan daya tahan tubuh.

Kuku rapuh tidak otomatis berarti terkena jamur. Psoriasis, cedera, dan proses penuaan dapat memberikan tampilan serupa. Karena itu, pemeriksaan sampel kuku mungkin diperlukan sebelum penggunaan obat antijamur. Jamur kuku dapat menyebabkan kuku berubah warna, menebal, retak, terbelah, terangkat, atau hancur.

Psoriasis Tidak Hanya Muncul pada Permukaan Kulit

Psoriasis dapat memengaruhi kuku tangan maupun kaki. Perubahannya bisa muncul pada orang yang telah memiliki bercak psoriasis di kulit, tetapi masalah kuku kadang menjadi keluhan yang paling terlihat.

Kuku dapat memiliki banyak cekungan kecil, permukaan kasar, perubahan warna, penumpukan jaringan di bawah kuku, atau terangkat dari dasar kuku. Pada kondisi yang berat, kuku dapat rapuh dan hancur.

Kuku psoriasis sering menyerupai infeksi jamur. Bahkan, kedua kondisi tersebut dapat terjadi bersamaan. Pemeriksaan dokter kulit diperlukan agar pengobatannya tidak keliru.

Psoriasis kuku diketahui dapat menimbulkan cekungan kecil, warna putih, kuning, atau cokelat, permukaan kasar, kuku terangkat, dan kuku yang mudah hancur. Perbaikannya berlangsung lambat karena kuku membutuhkan waktu beberapa bulan untuk tumbuh.

Kapan Kuku Rapuh Perlu Diperiksakan

Kuku rapuh yang hanya muncul setelah sering mencuci, memakai produk pembersih, atau melakukan manikur biasanya dapat membaik setelah pemicunya dikurangi. Namun, pemeriksaan diperlukan jika perubahan berlangsung lama, semakin berat, atau terjadi tanpa penyebab yang jelas.

Perhatikan perubahan warna gelap yang tidak ikut bergerak saat kuku tumbuh, pembengkakan di sekitar kuku, nyeri, keluarnya nanah, kuku terangkat, atau kerusakan yang hanya menyerang satu kuku. Perubahan serentak pada banyak kuku juga perlu diperiksa, terutama jika disertai kelelahan, penurunan berat badan, kulit pucat, rambut rontok, ruam, atau keluhan tubuh lainnya.

Kuku tidak tumbuh cepat. Kuku tangan dapat membutuhkan beberapa bulan untuk tergantikan sepenuhnya, sedangkan kuku kaki tumbuh lebih lambat. Karena itu, perawatan yang tepat tidak selalu memberikan perubahan dalam hitungan hari.

American Academy of Dermatology menekankan bahwa perubahan warna, bentuk, tekstur, serta pertumbuhan kuku dapat bersifat ringan, tetapi juga bisa menjadi tanda penyakit. Pemeriksaan dokter kulit membantu membedakan kerusakan karena kebiasaan, infeksi, penyakit kulit, dan gangguan kesehatan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *