HeadlineHukum & Kriminal

Pengadilan Agama Banyuwangi Dinilai Tidak Fair Dalam Proses Gugatan Waris

Banyuwangi,Topiknews.co.id- Harta bersama Keluarga Wiwik Sudarwati bersama suami Almarhum Hery Sufiantoro,digugat waris oleh saudara-saudara almarhum suaminya,Pengadilan Agama Banyuwangi di nilai berat sebelah dalam menangani proses ini.

Selama proses persidangan perkara waris ini menurut Moch Iqbal SH,selaku kuasa hukum dari Wiwik menilai majelis hakim berat sebelah. Pasalnya, majelis hakim yang mengadili perkara kliennya tersebut mengabulkan permohonan pihak penggugat untuk mendatangkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagaqi saksi ahli saat agenda pembuktian beberapa waktu lalu.

“Jelas saya menolak BPN dihadirkan sebagai saksi ahli. Alasan saya jelas, apakah BPN memiliki kapasitas terkait waris,Namun,majelis tidak menggubrisnya dan tetap mendatangkan BPN diperiksa sebagai saksi ahli dengan sekalian membawa buku tanah. Artinya, disini dalil penggugat, namun dibebankan pembuktian kepada saksi ahli,” tegas Iqbal, Senin (4/12/2023).

Sebelumnya pihaknya menolak permintaan penggugat untuk menunjukkan sejumlah SHM yang asli milik kliennya.Ketika BPN datang sebagai saksi ahli majelis hakim hanya mengkroscek buku tanah yang di bawa oleh perwakilan BPN.

“Jika hanya ingin informasi data, yang diminta cukup SKPT dari BPN. Bukan BPN disuruh bawa buku tanah. Saat itu, perwakilan BPN mengiyakan (cukup SKPT), tetapi majelis tetap ngotot untuk memeriksa buku tanah,Seharusnya, BPN yang diperiksa sebagai tenaga ahli. Bukan malah ngotot memeriksa buku tanah. Ini sudah tidak sesuai dengan hukum acaranya agenda memeriksa saksi ahli. Jadi, saya nilai majelis terkesan memihak,” ujar Iqbal.

Saat itu,malah dirinya kata Iqbal yang memeriksa perwakilan BPN dengan mengajukan pertanyaan singkat dan padat. Ia menanyakan kapasitas bersangkutan, apakah ahli dalam hukum waris dan apakah juga sebagai dosen atau akademisi yang mengajarkan materi kuliah waris.

“Perwakilan BPN saat itu dengan tegas menjawab bukan seorang ahli dan bukan dosen dalam hukum waris. Nah, disini sudah jelas kan?,” ungkap Iqbal.

Tak berhenti disitu, dugaan keberpihakan majelis terlihat saat memberikan penilaiannya adanya kesamaan identik antara Buku tanah dan bukti Sertifikat Hak Milik (SHM) fotokopi pihak tergugat, yang entah didapatkan dari mana.

“Kok bisa ditulis sesuai aslinya,padahal jelas beda bentuknya dan letak tanda tangannya. Buku tanah itu tidak identik dengan SHM. Jadi bisa dinilai sendiri kan?,” heran Iqbal.

Merasa kesal, Iqbal sempat meminta hak ingkar kepada majelis hakim yang tengah mengadili perkara kliennya tersebut.

“Ketika ingin ajukan hak ingkar atas keberatan saya agar majelis hakim diganti, malah tidak diperbolehkan. Padahal itu sudah diatur dan diperbolehkan jika ada alasan kuat,” imbuh Iqbal.

Atas rentetan dugaan keberpihakan majelis hakim ini, Iqbal berharap ada keadilan yang benar-benar ditegakkan dalam proses peradilan kliennya yang saat ini masih berlangsung.

“Mudah-mudahan Hakim bisa adil, karena Hakim adalah wakil Tuhan di bumi,” harapnya.

Sementara itu, Panitera Muda PA Banyuwangi, Moh. Arif Fauzi. menyampaikan bahwa dalam sebuah perkara tentunya ada saja salah satu pihak yang tak puas atas jalannya persidangan.

Majelis hakim, kata Arif, pasti memiliki alasan tersendiri untuk menyetujui permohonan pihak penggugat maupun tergugat untuk mendatangkan saksi dari manapun untuk terangnya sebuah perkara.

“Jikapun nantinya dalam putusan salah satu pihak merasa tidak puas, ada mekanisme yang sudah diatur. Bisa langsung banding pengadilan tinggi agama hingga tingkat kasasi,” ucapnya.(Ris)

Related Articles

Back to top button
×